Monday, 25 February 2013

Catatan Perjalanan Melihat Tangkis Laut Misterius

Keindahan pantai berpadu tangkis laut yang misterius


Penasaran. Itulah reaksi pertama saya kala ada teman mengabarkan, ada “jembatan” yang tiba-tiba muncul di tengah laut. Bayangan saya saat itu, “jembatan” itu muncul dan menghubungkan dua pulau atau setidaknya dapat dilalui dari daratan menuju tengah laut meskipun tidak sampai menghubungkan dua pulau atau daratan. Namun istilah “jembatan” seiring derasnya informasi, khususnya dari jejaring sosial tidak lagi pas. Melihat gambar-gambar yang di-upload di laman facebook oleh beberapa teman misalnya memperlihatkan tumpukan batu-pasir dari ukuran besar hingga kecil menumpuk dan memanjang mengikuti garis pantai. Tentu istilah jembatan tidak lagi sesuai. Beberapa istilah pun muncul.
Dari pemberitaan yang ada, baik cetak, elektronik ataupun kabar dari mulut ke mulut bermunculan istilah-istilah yang tidak sama. Beberapa media menyebut tangkis laut, ada yang menambahi tangkis laut ajaib, sementara ada warga lokal (disamping istilah jembatan tadi) menyebut “takat” (gunung laut), bahkan salah satu media online nasional menyebut dengan “pulau ajaib”, termasuk ada juga yang menyebut sebagai “pulau karang aneh”. Mayoritas sumber pemberitaan itu menyertakan istilah-istilah seperti aneh, ajaib, misterius, dan mengait-ngaitkan dengan hal-hal mistis dan supranatural.
Rasa penasaran tetaplah membuncah, apalagi tempat saya bekerja termasuk dekat dengan lokasi yang apapun namanya itu, yakni di pulau Kangean, tepatnya rumah kontrakan saya di Kecamatan Arjasa. Sementara lokasi –untuk selanjutnya saya akan menyebut tangkis laut—itu berada di Kampung Tembang Desa Buddhih Kecamatan Arjasa. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab setelah ada ajakan dari UPT Pendidikan Kec. Kangayan untuk mengunjungi tangkis laut itu. Tak kurang dari 20 orang ikut dalam petualangan itu, diantaranya Kepala UPT Pendidikan, Pengawas TK/SD dan sejumlah guru dan Kepala Sekolah SDN Kec. Kangayan. 
Start point dimulai dari Desa Angon-Angon Arjasa, meski ada beberapa peserta yang langsung berangkat dari rumahnya. Jam digital di layar ponsel menunjukkan angka 07.20 WIB. Menggunakan sepeda motor kami menarik gas dengan kecepatan sedang, antara 40-60 km/jam menuju titik point ke-dua, Sungai Bato-Bato (batu-batu). Perjalanan melewati bebukitan dengan kondisi jalan darat khas kepulauan yang rusak parah. Pengendara sepeda motor harus pandai-pandai meliuk-liukkan badan, bermanuver menghindari lubang-lubang di jalanan yang beraspal tipis—tentang jalan ini. Banyak orang Kangean mengeluh dan mengharap, kapan mereka dapat jalan ber-hotmix seperti jalan raya di Sumenep.
Melintasi sungai bato-bato. Airnya kekuningan
Pada angka 08.17 WIB kami tiba di Sungai Bato-Bato, ternyata sungai ini berfungsi sebagai pelabuhan untuk perahu-perahu ukuran kecil dan sedang sebagai transportasi penghubung antar pulau-pulau kecil dengan pulau Kangean. Suasana pelabuhan lebih ramai dari biasanya. Bisa ditebak, disamping warga lokal yang biasa menggunakan jasa perahu untuk bepergian, ada puluhan orang yang juga berniat mengunjungi tangkis laut itu. Memang sejak kemunculan tangkis laut itu, banyak masyarakat, khususnya warga Kangean sendiri datang berduyun-duyun demi menjawab rasa penasaran mereka, seperti juga saya saat ini.
 Rupanya tidak semua peserta datang tepat waktu. Kami harus menunggu beberapa teman yang belum datang. Kordinator rombongan mencari perahu carteran untuk perjalanan selanjutnya. Sebenarnya dengan perahu ukuran agak besar, dari pelabuhan ini bisa langsung menuju ke lokasi. Namun kami mendapatkan perahu ukuran kecil, sehingga diputuskan bahwa harus transit dulu di Desa Pajenangger. Menurut salah seorang teman yang berpengalaman, dengan transit di Pajenangger, jarak tempuh sebenarnya akan lebih pendek. Sebab jika langsung dari pelabuhan ini, perahu akan bergerak sedikit memutar menyisir pantai selatan pulau kangean yang dipenuhi dengan ceruk dan tanjung ditambah dengan pulau-pulau kecil berbatu karang yang tidak bisa dilewati perahu. Atau bahkan perahu harus bergerak lebih ke tengah jika air kebetulan surut.
Pada angka 09.15, mesin diesel perahu dinyalakan dengan “engkol” tangan. Baling-baling berputar dan mendorong pelan perahu kecil dengan 20 penumpang plus satu sepeda motor. Sungai Bato-Bato adalah sungai muara yang dangkal dengan air kekuningan. Di sisi kanan-kiri dipenuhi tumbuhan bakau. Anehnya meski bernama Sungai Bato-Bato yang artinya sungai batu-batu, saya tidak melihat adanya batu atau sejenisnya di sepanjang sungai ini. Tidak ada yang menarik dari sungai ini.
Lepas dari sungai, pemandangan laut dengan gugusan pulau-pulau kecil nan eksotis menyihir mata. Mulut tidak henti-henti melafalkan pujian-pujian ketakjuban akan keindahan pulau-pulau ini. Air laut yang tenang, biru dan jernih. Sesekali ikan-ikan melompat-lompat di atas air. Perahu kecil yang membawa kami melaju pelan. Mungkin karena kelebihan muatan. Tapi saya tidak kwahatir perahu ini akan tenggelam. Laut begitu tenang berkawan. Selang satu jam, tepatnya pada angka 10.58 perahu sandar di pelabuhan kecil di sisi utara desa Pajenangger, Arjasa. Keindahan panorama alam; laut di bawah ditingkahi pulau-pulau kecil dan latar pengunungan pulau Kangean di utara masih menghipnotis mata saya. Indah nian. Udaranya segar. Air lautnya bersih. Dan ikan-ikan berenang dengan damai. Langit cerah. Benar-benar sempurna.
Tak banyak yang bisa saya tuliskan tentang desa Pajenangger ini. Sebuah desa yang biasa. Terbelakang. Tidak ada sinyal ponsel. Kecuali lautnya yang eksotis, tidak ada yang menarik. Dari Pajenangger, kami harus lewat jalur darat dulu. Menaiki mobil pick-up selama kurang lebih satu jam, akhirnya kami diturunkan di kampung Bugis, masih masuk desa Pajenangger. Karena jam sudah menunjuk angka 12.06, rombongan akhirnya sepakat untuk shalat dhuhur dulu. Selepas shalat dhuhur perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu. Dan kami mendapatkan perahu yang lebih kecil dari yang sebelumnya. Terpaksa rombongan dipecah menjadi dua. Dan perahu yang terbuat dari fiber itu harus mengangkut kami dua kali. Saya termasuk rombongan ke dua. Dan harus menunggu hampir satu jam sampai perahu itu kembali dari mengantar rombongan yang pertama.
Sang “kapten” perahu yang berdarah bugis itu, sempat bercerita bahwa, tangkis laut itu memang muncul secara tiba-tiba dalam satu malam. Pada malam hari, di tanggal 18/1, terdengar bunyi-bunyian yang tidak biasa di tengah laut. Warga sekitar yang sedang mencari ikan menduga, bunyi itu lantaran cuaca ekstrem yang memang terjadi saat itu. Dan, keesokan harinya, muncullah tumpukan bebatuan yang kemudian disebut jembatan aneh, tangkis laut dan istilah-istilah lainnya. 
Giliran rombongan keduapun tiba. Saya bergegas melompat ke atas perahu. Setelah mesin dihidupkan, perahu ini melesat dengan cepat. Wajar saja, bodinya ringan karena terbuat dari fiber. Setelah hampir 30 menit, sang “kapten” perahu menunjuk sebuah tanjung berbukit yang tidak jauh lagi. “di balik tanjung itu posisinya”, saya mengangguk antusias. Melewati tanjung itu, perahu kemudian berbelok kanan dengan pelan. Benar, batu-batu yang membuat kehebohan itu ada di sana. Memanjang mengikuti garis pantai. Perahu bergerak pelan berhati-hati terhadap batu karang di perairan dangkal. Di balik batu-batu itu, dua perahu ukuran besar sudah terparkir, dan sepertinya perahu yang lebih besar terdampar dan tidak bisa bergerak. Puluhan muda mudi berenang, ada juga yang tetap di atas perahu, dan sebagian yang lainnya “jalan-jalan” di atas tangkis laut itu.
 Tepat jam 14.20 kami turun dari atas perahu dan menginjakkan kaki di atas tangkis laut itu. Saya tidak bisa membendung rasa penasaran. Mengabaikan wanti-wanti nenek via telpon sebelum berangkat agar jangan pernah menginjakkan kaki di atas tangkis laut itu. Katanya, bisa saja batuan itu ambrol dan saya bisa ditelan oleh laut. Nenek mendengar cerita tentang tangkis laut ini versi mistisnya dari kabar mulut ke mulut. Tapi aku pikir itu tak lebih bentuk kasih sayang dan kekwatiran sebagai orang tua.   
Karena rasa penasaran stadium empat, hal pertama yang saya lakukan di tempat itu adalah menyentuh pasir dan bebatuan yang tinggi-tumpukannya sekitar tiga meter di atas permukaan air itu. Pasirnya tidak halus sebagaimana pasir pantai pada umumnya yang saya lihat dan rasakan seperti di pantai Lombang atau Slopeng. Pasir di sini lebih mirip kerikil-kerikil kecil. Bentuknya beragam, kebanyakan batang memanjang, ada yang bulat, oval dan jenis serta bentuk lainnya. Bahkan ada yang menghampar dengan kontur yang khas. Ada juga yang berbentuk seperti karton telur. Unik. Warna bebatuan didominasi warna putih cerah, bahkan ada yang mengkilap. Saya menduga bahwa batuan-batuan kecil ini berasal dari koral atau terumbu karang yang entah bagaimana caranya terhempas dan hancur dari kedalaman laut atau pinggir pantai lalu menumpuk membentuk tangkis laut, yang menurut perkiraan sepanjang kurang lebih dua kilometer.
Disamping batuan-batuan kecil, ada juga batu-batu besar. Bahkan ada yang sangat besar. Bentuknya seperti batu karang biasa. Jika diamati dengan mata telanjang, ada perbedaan posisi penempatan batu-batu itu. Batu-batu kecil berada di sisi yang menghadap ke pantai. Sementara batu-batu besar menghadap lautan lepas. Sehingga seolah-olah batu-batu besar itu menahan batu-batu kecil agar tidak terbawa arus ke tengah laut atau terhempas ke arah pantai--perlu diketahui, menurut cerita penduduk setempat ombak di sekitar tangkis laut itu relatif besar dibanding dengan yang lain. Disamping itu, batu-batu kecil penempatannya lebih teratur dan rata. Sementara batu-batu yang besar tidak beraturan. Salah satu teman mencoba mengukur lebar tangkis laut itu, pada titik terlebar didapat angka kurang lebih 15-20 meter.
Hal menarik lainnya, di atas tangkis laut itu, telah berdiri dua buah warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Penduduk sekitar jeli memanfaatkan banyaknya masyarakat yang datang sebagai peluang bisnis. Disamping itu, jasa antar jemput perahu menjamur. Perahu yang biasanya dipakai untuk mencari ikan, kini bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan sampingan antar jemput masyarakat yang penasaran terhadap tangkis laut itu. Pada hari minggu atau hari-hari libur sekolah, banyak masyarakat yang datang mengobati penasaran sambil menyegarkan pikiran dari kesibukan pekerjaan sehari-hari. 
Pada gundukan yang agak tinggi di sisi barat, terpancang bendera merah putih berkibar-kibar ditiup angin. Beberapa muda-mudi mengambil gambar dengan kamera ponsel. Beberapa yang lainnya merekam video. Saya berfikir bagaimana tangkis laut sepanjang dua kilometer ini bisa tercipta dalam satu malam. Dengan banyak bebatuan yang besar pula. Seorang teman dengan nada bercanda, ‘’siapa pemborong tangkis laut ini?”. Dalam hati saya menimpali, siapapun yang memborong pekerjaan tangkis laut ini pasti tidak ada korupsi di dalamnya.
Bersama dengan Matha, penampakan tangkis laut misterius

Wednesday, 13 October 2010

Salah Paham Bahasa Kangean

BIRULANGIT-Masyarakat Pulau Kangean memiliki kekhasan tersendiri, khusunya dalam penggunaan bahasa yg relatif berbeda dengan bahasa Madura pada kebanyak dialek dan arti. Bahkan bisa dibilang masyarakat Kangean memiliki bahasa sendiri, yakni bahasa Kangean. Menurut cerita yang saya dengar, bahasa Kangean merupakan perpaduan bahasa Madura asli dengan bahasa Bugis serta dipengaruhi unsur bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
***
Suatu ketika, seorang guru asal Sumenep yang baru saja bertugas di Kangean indekos di salah satu rumah warga, tepatnya di Dusun Arkokap Desa Temur Janjang Kec. Kangayan. Guru tersebut ditawari nasi sukun oleh salah satu tetangganya, dan terjadilah percakapan berikut:
''pak, mau nasi sukun?'' kata si ibu
''napa, bu?'' rupanya si bapak kurang mendengar.
''nasi sukun... ende'?!'' si ibu meninggikan suaranya hingga satu oktaf lebih
''ende'lah'' kata si guru pede menirukan dialek si ibu.
Karena yakin akan diberi nasi sukun sama tetangganya tersebut si guru mengambil keputusan strategis untuk tidak perlu menanak lagi hari itu. Hitung-hitung bisa berhemat, pikirnya. Apalgi si guru merupakan guru yang baru diangkat yang gajinya tidak seberapa.
Walhasil, menunggulah si guru akan kiriman nasi sukun dr tetangganya tersebut. Menit berlalu, bahkan jam jam jg telah berlalu. Perut kian keroncongan sementara nasi sukun belum juga datang. Sebentar-sebentar dia mengintip ke rumah tetangganya yang kebetulan di depannya dari balik jendela. Berharap si tetangga keluar dg sepiring nasi sukun yang masih mengepul hangat.
Sementara itu, di dalam rumah si tetangga:
''pak guru yang baru g mau ma nasi sukun'' kata si ibu sama suaminya
''yah, maklum lah bu namanya juga guru, pasti g mau makan nasi sukun....''
***
Usut punya usut, ternyata pengertian ende' dalam bahasa Kangean dan Madura Sumenep merupakan satu kata yang memiliki arti berlawanan.
Ende' (Kangean): TIDAK MAU
Ende' (Madura Smp): MAU

Monday, 1 June 2009

TENTANG DIA

Aku memasukkan Honda Jazz kakak iparku ke dalam garasi, orang yang duduk di samping berselimutkan jaket hitam nampak menggigil karena air hujan. Aku pandangi wajahnya dengan senyum iba, lalu pandanganku beralih pada jaket yang nampaknya made in luar negeri itu.
“turun, sudah nyampe….”
Aku lihat tatapannya kosong. Wajahnya menampilkan arakan mendung. Padahal, hujan sendiri sudah hampir reda. Aku beranjak turun lebih dulu. Bergegas membukakan pintu mobil agar ia bisa segera turun dan berganti pakaian.
“lho! ayo turun, dek….”
Dia masih saja duduk dan tatapan matanya kosong. Aku raih tangannya agar ia mau turun. Dia tetap saja diam tapi tidak menolak ketika aku bimbing untuk turun. Aku memandu dia untuk masuk rumah—rumah bakal mertuaku. Kurasakan tangannya dingin sekali. Aku ambilkan pakaian dari lemari dan aku tinggalkan dia di kamar agar segera berganti baju.
5 menit berlalu, aku kembali masuk kamar. Ternyata, masih saja dia mematung. Kali ini pandangannya tertuju pada lukisan seseorang dengan latar belakang gerimis yang aku print dari internet beberapa waktu yang lalu.
“lho, kok belum ganti pakaian juga sih? Kamu tuh kedinginan. Cepat ganti pakaian,” Aku ambil jaket yang menyelimutinya, dan melemparkan jaket itu ke dalam keranjang pakaian kotor yang terletak di pojok ruang dekat tempat sampah. “apa perlu kakak yang bantu agar bisa ganti baju?” aku menggodannya.Godaanku sukses menyadarkan dia. Dia beranjak mengambil pakaian yang tadi aku siapkan dan bergegas masuk kamar mandi. Aku menghela nafas berat. Aku merebahkan tubuhku begitu saja di atas springbed. Di kepalaku sedang bergumul beribu pertanyaan tentang jaket hitam yang kini ada di keranjang itu.
“Ah kenapa tidak aku masukkan ke tempat sampah saja tadi…..” lirihku mencoba menetralkan bahan kimia berbahaya yang menyembur memenuhi saraf-saraf kepalaku.
***
“kamu menemui cinta pertamamu?” ini adalah pertanyaan ke lima dari daftar perntanyaanku. Hari ini adalah hari ke 15 pasca hujan dengan jaket hitam yang kini aku sudah tidak tau ada di mana jaket itu berada. Mungkin saja sudah dibuang, atau malah disimpan di dalam lemari. Aku sungguh tidak mengetahuinya. Tempat ini adalah taman yang sama, taman dimana 15 hari yang lalu, aku disuruh kakak ipar untuk menjemput dan menyelamatkan dari hujan yang digemarinya tapi seringkali membuatnya sakit.
Sebelum ngobrol tentang tema yang telah aku ajukan lebih dulu, aku memesan es teler kesukaannya seharga dua ribu perak. Aku pesan tiga. Untukku, untuknya. Satu lagi aku siapkan, mungkin saja diantara kami ada yang kurang.
“Adek siap membicarakan masalah ini dengan Mas?”
“yut!” Katanya dengan dialek daerahnya yang kental.
“Kita mulai dari mana?”
“Terserah mas saja, ini kan inisiatif, Mas. Aku nginkut aja.”
“Kamu yakin aku ini tunangannmu?”
“Tentu saja, kenapa tanya itu…?”
“Em… aku pikir gak ada salahnya bertanya, kan?”
“Ya!”
“Kamu menemui cinta pertamamu?”
“Ya, kenapa?”
“Kamu tidak merasa berasalah sama mas?”
“ Aku tidak ngapa-ngapain dengan dia, tidak kangen-kangenan, dan tidak yang lainnya.”
“Kamu yakin?”
“yakin! Sangat yakin!”
“Tapi aku tersinggung.”
‘Cemburu maksudnya?”
“Entahlahlah! Tapi aku tidak suka itu.”
‘Apa alasannya?”
“Apa perlu aku mengajukan alasan untuk masalah seperti ini?”
“Ya, jika mas mau.”
“boleh balik tanya?”
“………”
“Kenapa juga kamu tidak suka ketika aku chat dengan Irma. Kamu bisa menjawabnya. Dan, jawabanmu adalah jawabanku juga.”
“………”
“Satu lagi, apa kamu membicarakan masa kisah cintamu yang dulu dengan cinta pertamamu itu?”
“ya.”
“untuk apa?”
“tidak untuk apa-apa, hanya gak ada topik yang lain lagi untuk dibicarakan.”
“itu yang paling tidak aku sukai! Aku kecewa dengan hal itu.”
“Aku salah. aku minta maaf.”
“Mungkin bagimu ini masalah klise dan akan selesai dengan maaf. Tapi, tidak bagiku. Ini masalah prinsip dan komitmen. Jika kamu menafikan dua hal itu, apa artinya hubunan ini?”
“Aku pikir kisah cinta pertama kita berbeda. Jadi…”
“Jadi, jika berbeda kamu bisa seenaknya membicarakan hal yang aku benci. Aku juga punya cinta pertama, bahkan cinta kedua. Tapi, aku tidak pernah mengungkit-ungkit untuk jadi bahan obrolan dengan orangnya. Karena, sekali lagi, ini menyangkut komitmen, menyangkut perasaan. Dan aku menghormati perasaanmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa perasaan itu halus. Kalau mau, aku bisa saja melakukan hal yang serupa, atau lebih. Tapi, aku tidak melakukannya. Kamu tau alasannya kenapa…………..?”
“……….”
“Tolong jangan menangis. Aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan tangisan. Karena aku akan iba dan akan melupakan subtansinya. Aku tidak mau kejadian ini terjadi lagi selama kita tunangan dan seterusnya.”
“maafkan adek…..”
“Aku tidak melarang kamu berkomunikasi dengan siapapun. Asal saja hal itu tidak menginjak-nginjak perasaanku dan yang paling penting kehortamatan pertunangan kita, nilai sucinya, dan pengorbanan yang telah kamu dan aku lakukan.”
“Adek salah…”
“Tolong berhenti menilai salah atau benar. Tidak penting apa masalah ini benar atau salah. Sebab, mestinya sebuah hubungan tidak didasarkan pada benar dan salah. Tapi, pantas tidak pantas. Etis tidak etis. Jika benar atau salah menjadi landasan, maka, ketika kita berbuat salah, aka kita akan mencari pembenaran. Mencari dalil legalitas. Dan hal itu sama sekali tidak sehat dalam sebuah ikatan. Termasuk ikatan pertunangan. Kurang apa aku selama ini? Jika kamu bilang aku sabar dan selalu ada untukmu. Mungkin, tak semuanya benar. Semua pasti ada titik nadirnya. Ada titik jenuhnya. Aku tau apa yang kau bincangkan dengan cinta pertamamu itu. Dan itu sungguh-sungguh menyakitiku. Menyakiti perasaanku untuk yang kesekian kali. Mungkin aku terlalu posesif. Tapi, aku tau bahwa menyayangimu tak selamanya harus kejam terhadap perasaanku. Mungkin, selama ini yang aku tampilkan adalah sosok terhalus yang aku miliki. Tapi, tolong disadari, aku juga punya sisi lainnya. Aku akui aku egois, pemarah, temperament, mudah tersinggung, sensitif, dan sifat jelek lainnya. Aku pikir, tidak ada salahnya kita introspeksi. Aku ingin kamu memikirkan tentang semuanya. Jangan bertanya aku ragu atau apa.”
Itu adalah kalimat panjang yang keluar begitu saja dari mulutku. Entah, mengapa aku bisa sampai mengeluarkannya, apalagi aku rasa cukup pedas. Pedas untuk ukuran orang yang sedang aku pandangi tangis pecah air matanya. Aku memang tidak bisa melihatnya menangis. Tapi, kali ini aku harus tegas meluruskannya. Minimal mengeluarkan gumulan kata-kata yang memenuhi batok kepalaku.
“Terkadang aku ingin putus saja darimu jika saja ……”
“Kakak…..!!!” dia beranjak dari tempat duduknya dan menghambur memelukku. Dia memangilku dengan panggilan Kakak. Oya, Sebelum orang ini aku pertunangkan aku memposisikan dia sebagai adik, dan dia memposisikan aku sebagai kakaknya.
Dia sesengukan sambil menguncang-guncang tubuhku. Tumpahan air matanya membasahi baju liris hijau hadiah darinya waktu aku ultah kemarin.
“jangan keluarkan kata-kata itu!!!!!” dia sesengukan dan menyembunyikan wajahnya di dadaku.
Aku luluh.
“Alek, mohon maaf…..” kembali dia menggunakan panggilan lama untuk dirinya yang membuat hatiku teriris-iris.
Aku sadar sepenuhnya kata-kata putus hanya shock terapi baginya.
Aku tidak tau apa aku harus melepaskan pelukan ini. Karena di samping dia belum halal, orang-orang di taman ini mulai menjadikan kami tontonan.
Setelah sekian lama dia terisak, aku usap air matanya yang membuat kelopaknya sembab. “Pulang, ya?” dia menjawab dengan anggukan kecil.
Tak lama lagi, matahari segera masuk ke peraduannya. Aku mengayuh sepeda ontel polygon-ku. Di belakangku, membonceng seorang gadis manying dengan mata sembab, menyeruput es teler bungkus plastik ketiga. Tubuhnya terguncang-guncang karena aku sengaja lewat jalan yang tidak rata. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari corong pengeras suara di masjid. Aku mempercepat kayuhan sepdea agar segera bisa memenuhi panggilan adzan. Akan aku adukan pada-Nya cerita di sore ini.

Sunday, 15 February 2009

TRUE LOVER OR...


Jika kamu suka seseorang karena dia tampan, cantik, tampilan fisiknya, alias tampangnya, maka itu bukan CINTA tapi NAFSU;
Jika kamu suka seseorang karena dia pintar atau intelek itu bukan CINTA tapi KAGUM;
Jika kamu suka seseorang karena dia baik hati, pemurah, penolong, dan selalu ada untukmu itu bukan CINTA tapi TERIMA KASIH;
Jika kamu suka seseorang karena dia tajir, beruang, kaya, dst itu bukan CINTA tapi MATRE;
TAPI,
Jika kamu suka seseorang padahal kamu tidak tau alasannya mengapa kamu suka, maka itulah CINTA yang sebenarnya.

(diforward dari pesan singkat teman, ilustrasi gambar diunduh dari http://s3.amazonaws.com/giles/true_love_aww.jpg)

Friday, 6 February 2009

Tradisi Nyontek

Pada sebuah kesempatan di kelas perkuliahan, ada seorang dosen yang bercerita, lebih tepatnya bentuk keprihatinan tentang kondisi mahasiswa sekarang, bercerita tentang banyak mahasiswa yang menafikan proses perkuliahan untuk tujuan to find knowledge dan lebih mengutamakan tujuan prakmatisnya—medapat ijazah lalu bisa ikut tes cpns, ikut sertifikasi atau minimal dapat senjata untuk pengajuan tunjangan fungsional di madrasah tempatnya mengajar, bagi yang mengajar.

Pada sebuah kesempatan di kelas perkuliahan, ada seorang dosen yang bercerita, lebih tepatnya bentuk keprihatinan tentang kondisi mahasiswa sekarang, bercerita tentang banyak mahasiswa yang menafikan proses perkuliahan untuk tujuan to find knowledge dan lebih mengutamakan tujuan prakmatisnya—medapat ijazah lalu bisa ikut tes cpns, ikut sertifikasi atau minimal dapat senjata untuk pengajuan tunjangan fungsional di madrasah tempatnya mengajar, bagi yang mengajar.
Lebih jelasnya, banyak mahasiswa yang hanya datang ke kampus hanya sekedar mengisi absen agar nanti bisa ikut UAS, tentunya kalau sudah ikut UAS dapat nilai, dan nilai itu yang nantinya disematkan bersama ijazah yang didapat. Ketika ada tugas penulisan makalah atau paper, si mahasiswa meng-order-kan pembuatan makalahnya kepada temanya. Temannya bisa saja mengorderkan lagi sama temannya yang lain, adik kelasnya, atau orang lain yang mau. Di dalam kelas, tidak ada greget diskusi layaknya forum keilmuan. Disana hanya ada seorang dosen yang ngomong, dan selebihnya hanyalah "patung" mahasiswa yang duduk manis, tapi terkadang duduk manisnya diselingi dengan obrolan layaknya di sebuah pasar, jadinya tidak manis lagi.
Dua hari, sekarang dan kemarin (5-6/02), saya ikut UAS di kampus untuk semester VII. Sebenarnya tidak ada yang istemewa di ujian kali ini. Pelaksanaannya sama seperti tahun-tahun kemarin. Sama-sama bisa nyontek dengan leluasa. Nyontek berjemaah. Satu kelas penuh. Semuanya nyontek. Pengawas sepertinya tidak begitu eddap dengan ulah mahasiswa yang ribut dengan bunyi buku dibuka catatan/foto kopi diktat, dan diskusi bersama membahas jawaban soal-soal antara yang satu dengan yang lain, lebih tepatnya bukan membahas tapi barter-barteran jawaban.
Samber gledek, saya tidak perlu belajar untuk UAS beberapa tahun belakangan ini. Seingat saya, hanya di semester awal saja saya belajar, maklum waktu itu saya masih kebawa kebiasaan ketika MA, dimana sebelum ujian mesti belajar dengan tekun dan semangat. Eh ternyata, di bangku kuliah dengan label status baru: maha-siswa ujiannya jauh lebih enteng daripada SD sekalipun. Maklum nyontek!
Apa memang tidak punya idealisme untuk tidak mencontek? "Jangan bicara idealisme disini bung!", begitu kata seorang teman. "Kalau kamu tidak mau ikut arus ini, kamu harus siap tidak lulus, mengulang lagi, nilai rendah dan sejenisnya". Lho kok? Entahlah saya juga bingung dengan kondisi ini seperti itu. Saya kemudian jadi serba tidak nyaman. Nyontek, pada awalnya hati tidak begitu rela, tidak nyontek ancaman tidak lulus atau minimal nilai jelek menghantui saya. Jadinya saya kemudian terbiasa nyontek. Dan sekarang kalau tidak nyontek malah tidak nyaman. Dan UAS dua hari inipun saya benar jadi seorang penyontek. Ya walaupun ada beberapa dosen yang memang memperbolehkan menyontek, atau bahasa kerennya open book!
Sebenarnya, kalau ditanya hati yang paling dalam, sayapun tidak mau menyontek. Saya malu kepada anak SD yang kalau ketahuan menyontek langsung ditegur oleh gurunya, atau bahkan tidak diperbolehkan lagi melanjutkan menjawab soal-soal ujiannya. Tapi mau bagaimana lagi, saya dipaksa kondisi untuk melakukan hal itu.
Sebenarnya buukan contek-menyontek saja fenomena bobroknya wajah pendidikan kita. Coba tanya kepada anak-anak SLTA atau SLTP ketika mereka mengerjakan UAN, pasti, kalau dijawab jujur, mereka mengatakan bahwa mereka menjawab soal-soalnya dengan dibantu seorang (atau beberapa) guru secara "profesional". Itu di SLTP dan SLTA. Kembali lagi ke kampus, coba tanya kepada beberapa mahasiswa tingkat akhir, beberapa orang diantara mereka yang menyusun skripsinya dengan cara mengkopi paste milik orang lain, membeli, mengorderkan, bahkan ada gosip ada seorang dosen yang dagangan skripsi baik partai ataupun eceran. Naif! Bahkan yang lebih anu lagi, ada kampus yang menjual ijazah!

Thursday, 5 February 2009

SANTRI DAN BUDAYA BEBEK VALENTINE'S DAY

14 Februari, biasanya, merupakan hari yang dinanti-nantikan kaum remaja. Katanya, hari itu adalah "hari raya kasih sayang" atau yang lebih populer disebut Valentine's Day. Hiruk pikuk Valentine's Day semakin semarak ketika mal-mal dan pusat perbelanjaan (kalau di kampung mungkin kios atau toko di pinggiran jalan) menjual bunga, kartu Valentine dengan gambar cupid, coklat berbentuk hati, dan pernak-pernik Valentine's Day lainnya. Demikian juga dengan media—koran, majalah, tabloid, televisi, dan internet tidak menyia-nyiakan momen hari raya kaum muda ini lewat begitu saja, sebab momen-momen seperti ini pasti mendongkrak rating dan oplah bisnis mereka.
Sejarah Valentine's Day merujuk pada seorang Pendeta Kristen St. Valentine. Menurut Ensiklopedi Katolik, ada tiga versi sejarah tentang hari itu. Pertama, pada abad ke 3 M, Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menyebarkan ajaran Kristiani.
Kedua, Claudius II berpendapat bahwa pemuda yang terus melajang akan lebih bersemangat dalam peperangan dibandingkan dengan yang menikah, namun St. Valentine menentang perintah Claudius ini dan secara diam-diam menikahkan pemuda-pemudi di Gereja hingga kemudian Claudius II mengetahui dan St. Valentine dijatuhi hukuman mati. Sebelum eksekusi, St. Velentine dijebloskan ke dalam penjara, di penjara inilah dia berkenalan dengan gadis, anak seorang sipir tempat dia dipernjara yang sedang menderita sakit. Dia diminta untuk mengobatinya dan berhasil, si gadis sembuh. Ternyata, diam-diam , St. Velentine jatuh cinta kepada gadis itu, begitupun si gadis jatuh hati kepadanya. Maka jadilah keudanya sepasang kekasih di bilik penjara. Sebelum menghembuskan nafas di tangan algojo Claudius II, St. Valentine mengirimkan sebuah kartu kepada kekasihnya bertuliskan "dari yang tulus cintanya, Valentine.
Ketiga, dulu di sebuah desa, di Eropa, ada sebuah tradisi unik, dimana para pemuda menuliskan namanya pada secarik kertas dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah. Kemudian para gadis berkumpul dan masing-masing mengambil satu kertas tadi, nama pemuda yang muncul di kertas yang diambil oleh si gadis akan menjadi pacarnya. Setelah itu, mereka saling berkirim kartu ucapan dengan tulisan "atas nama Tuhan Ibu". Hal ini kemudian menggelitik para pendeta untuk mengganti tulisannya menjadi "atas nama Pendeta Valentine" dan hal itu tak lain adalah upaya kristenisasi yang dilakukan oleh pendeta Kristen. Yang perlu menjadi catatan, tradisi itu berlangsung di pertengahan bulan Februari. Bagaimana dengan pesantren?
Diakui atau tidak, semarak Valentine's Day ternyata juga bergaung di tengah-tengah komunitas pesantren, tentu saja gaungnya tak sehingar dan tak sebingar di luar. Warga pesantren, meski tidak semuanya, dan terutama santriwati, secara sembunyi-sembunyi turut serta dalam menyemarakkan hari raya, yang katanya di barat sana merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal.
Santri yang rata-rata masih di usia sweetseventeen memang rawan dan gampang sekali menjadi bebek (baca:pengekor), termasuk dalam moment Valentine's Day ini. Agresifitas media dalam menyajikan Valentine's Day secara tidak langsung membuat mainset mereka tersesaki indah dan serunya bervalentine-ria. Kronologisnya, mula-mula santri cewek (mungkin) tergoda untuk mengirimkan kartu ucapan "Happy Valentine" kepada orang yang disayanginya. Gayungpun bersambut dari si (santri) cowok, mereka menyiapkan coklat vs bunga mawar (bunganya bisa saja bunga plastik murahan), dan tulisan "Be My Valentine" diselipkan pada sebuah kartu yang kemudian dibungkus dengan kertas motif bunga. Atau urutannya bisa berbalik, santri cowok yang memulai lebih dulu baru kemudian disusul santri cewek. Atau bisa juga kedua-duanya serampangan saling berkirim ucapan Happy Valentine atau Be My Valentine. Ini hanya sebatas gambaran kecil bagaimana santri merayakan Valentine's Day.
Jika menafikan pandangan agama, Valentine's Day mungkin sah-sah saja dirayakan. Tapi yang pasti, Islam sungguh tegas mengharamkan kaum muslimin merayakannya. Apalagi jika dilihat dari sejarahnya, Valentine's Day bermula dari kaum di luar Islam yang dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati St. Valentine. Disamping itu, kegiatan Valentine's Day sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama dan adat ketimuran. Menurut poling majalah CosmoGirl, 95% gadis yang merayakan Valentine's Day rela melepaskan kegadisannya di perayaan 14 Februari tersebut kepada teman cowoknya.
Rasulullah bersabda, " Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ." (HR. At-Tirmidzi). Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauzi berpendapat, merayakan Valentine's Day sama dengan bid'ah dengan perbandingan hukum keharaman melebihi khamr dan judi—kalaupun tidak sama dengan kafir. Al-Qur'an juga dengan tegas mengatakan, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (QS. Al Isra’ : 36)
Dengan demikian, pantaskah santri ikut-ikutan merayakan, yang kata meraka, hari kasih sayang ini? Padahal Islam tidak pernah menetapkan hari tertentu untuk menebar kasih sayang, sebab pada prinsipnya cinta dan kasih sayang itu mesti diimplemetasikan tiap hari, tidak hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada lingkungan juga dan tidak pada tanggal 14 Februari saja. Wallahu a'lam!
dimuat di Radar Madura pada 05 Februari 2009

Tuesday, 3 February 2009

MEMANFAATKAN BLOG SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN EDUKASI DI PESANTREN

Pada tahun 1998, Jorn Barger memperkenalkan istilah weblog, istilah yang merujuk pada website pribadi yang diupdate secara kontinyu dan berisi jejaring (link) dengan website atau weblog lainnya. Weblog atau yang lebih populer disebut blog, seiring perkembangan internet sendiri terus mengalami perkembangan, termasuk peminatnya semakin hari semakin membludak. Mulai dari artis, politisi, tokoh, seniman, mahasiswa, hingga pelajar sekolah dasar.
Membuat sebuah blog tidak telalu sulit, tentunya pertama-tama kita harus punya akses internet terlebih dulu. Akses internet sendiri, saat ini tidaklah terlalu sulit, banyak pilihan koneksi yang bisa kita gunakan, mulai dari line telepon rumah (dial-up connections), Broadband, celuler dengan GPRS, atau pilihan koneksi lainnya dengan variasi harga dan kecepatan akses. Ada banyak tempat gratis (free hosting) yang bisa kita manfaatkan untuk menitipkan blog yang kita buat, misalnya di www.blogger.com atau www.wordpres.com. Membuat sekali lagi gampang, yang sulit adalah merawat dan mengisi (baca: memposting) secara kontinyu dan up to date sehingga orang akan tertarik dengan blog (pesantren) kita.
Sebagai sebuah layanan yang bisa diakses oleh semua orang di seluruh dunia (maya), blog bisa menjadi media yang efektif untuk mempromosikan dan memperkenalkan pesantren kepada masyarakat dunia (baca: pengguna internet). Apalagi, jika pesantren dimaksud adalah pesantren yang berada di daerah pedalaman terpencil dan jauh dari ruang publikasi, maka kehadiran blog akan menjembatani agar banyak orang lebih mengenal pesantren dengan segala keunikan dan kekayaan yang dimilikinya.
Tidak hanya itu, blog dapat pula menjadi media pembelajaran yang efektif bagi komunitas pesantren. Para kiai atau ustadz bisa memanfaatkan blog menjadii jembatan komunikasi yang lebih interaktif tanpa terbatas raung dan waktu. Blog bisa dibuat berdasarkan tema-tema tertentu sesuai dengan karakteristik dan kompetensi yang dimilikinya. Misalnya, kiai atau ustadz yang mengampu bimbingan kitab kuning dapat secara berkala memberikan materi pembelajarannya melalui blog (memposting). Hal ini akan membuka sebuah metode pembelajarn baru yang revolusioner dan semakin membuka gerbang wawasan para santri.
Dengan sendirinya pembelajaran dengan media blog akan melahirkan wawasan-wawasan baru, khususnya bagi para santri sendiri, mereka akan mencari perbandingan-perbandingan materi pelajaran dengan browsing di situs atau blog lainya. Dengan seperti ini, pembelajaran akan semakin menarik dan membuka tantangan baru bagi kiai atau ustadz untuk semakin meningkatkan kemampuannya ke level yang lebih tinggi, secara simultan.
Lebih jauh lagi, blog bisa menjadi media silaturrahim antara pesantren dengan alumni yang telah terpisah jarak dari komunitas pesantren. Mereka bisa terus mengikuti perkembangan pondok pesantrennya melalu dunia maya ini secara up to date. Para alumni juga bisa menyambung silaturrahim dengan alumni lainnya, melalui sebuah gatget forum yang bisa ditambahkan di blog dimaksud, misalnya.
Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep (www.annuqayah.blogspot.com), beberapa bulan terakhir memanfaatkan blog untuk menyajikan berita harian seputar kegiatan kepesantrenan, kejadian-kejadian penting dan unik. Sejauh ini, tanggapan dari berbagai pihak, santri, kiai, lebih-lebih alumni, sangat apresiatif. Bahkan banyak para santri yang terlibat dalam konten blog ini secara sukarela. Respon apresiatif dari para alumni dan berbagai pihak kemudian menjadi cambuk untuk terus mengembangkan blog ini.
Karena bisa diakses oleh semua orang, pengunjung blog inipun tidak hanya dari kalangan alumni atau komponen pesantren saja, melainkan banyak orang non pesantren yang tertarik dan berpartisipasi memberikan komentar apresiatif. Tentu hal ini merupakan kelebihan dan manfaat lain seperti yang telah penulis paparkan di atas. Walhasil kegiatan ngeblog akan memberikan warna tersendiri bagi pondok pesantren di tengah revolusi informasi saat ini

Monday, 12 January 2009

REFLEKSI: MENGUKUR KEDALAMAN EGO

BIRULANGIT-Aku pikir, setiap orang punya sisi kejelekan, tak terkecuali aku. Meminimalisir kejelekan itu adalah tugas diriku sendiri. Kalau aku tidak mampu, atau kalau aku tidak sadar, atau kalau aku menyadari tapi tidak mau sadar, maka tugas itu beralih kepada keluargaku, guru-guruku, teman-temanku, dan orang-orang yang melihat aku sedang dalam kesesatan. Karena bisa saja, aku tak pernah tahu, apakah aku sedang tersesat. Sebab bagaimana mungkin aku bisa melihat ada seekor gajah yang berkubang di pelupuk mata, karena lebih mudah bagiku untuk melihat seekor semut di seberang lautan. Itu kata pepatah!

Tapi kalau aku sadar, maka aku akan bermuhasabah. Melihat kembali dengan jeli, apa yang telah aku lakukan, mengaca diri, jangan-jangan benar di pelupuk mataku ada seekor gajah yang sedang berkubang ditemani seekor anjing.

Aku tidak ingin melihat kesesatanku itu secara parsial. Karena bisa saja aku tidak tersesat sendirian, jangan-jangan ada temanku yang menjerumuskan aku, walau kemudian aku tahu bahwa temanku itu adalah seekor setan atau sebangsa manusia yang punya hubungan dekat dengan bangsa setan. Kalaupun seperti itu, aku tidak mungkin mengakui bahwa sebenarnya aku tidak tersesat karena yang menyesatkan aku adalah setan. Aku secara gentle akan bilang bahwa aku memang tersesat dan aku tidak akan menyalahkan setan sebagai anjing hitam, eh kambing hitam (kasian kambing, sudah sering dikorbankan untuk dibuat sate masih juga dibawa-bawa untuk menjelekkan orang lain).

Seandainya kemudian aku tahu, bahwa sebenarnya tidak ada setan atau sebangsa setan yang turut serta dalam kesesatan yang aku maksud tadi, maka nyatalah bahwa aku tersesat dengan diriku sendiri, dengan kata lain bahwa setan itu adalah diriku sendiri, atau manusia yang punya hubungan dengan bangsa setan itu ternyata diriku sendiri. Sebab terkadang, egoisme seringkali memenuhi rongga dadaku. Seperti seekor gajah yang berkubang untuk membuat dirinya senang. Begitulah egoku, berbuat seenaknya dan tak mau berfikir tentang apa akibatnya, bagi diriku lebih-lebih terhadap orang lain. Ah ego!

* aku yang dimaksud disini bisa saja yang membaca tulisan ini :D

Wednesday, 3 September 2008

Pada Sebuah Pagi

BIRULANGIT-Pada sebuah pagi kutahu bahwa wajahmu sungguh menawan. Menawan hasratku untuk mencumbumu dengan doa. Doa yang selalu mengalir dari sungai dadaku. Komohonkan kepadaNya agar wajahmu tak lekang untuk selalu menawanku.
Pagi itu, kembali aku berpekur dengan peluh bersamamu, dalam hayal. Kutahu, desah dan lirih tilawahmu memanggil nuraniku untuk bangkit dan bergegas menjemputmu. Membawamu ke dalam sebuah negri impian, penuh bintang. Bertenggerlah kita pada sebuah bintang temaram. Bisikmu menggugah birahiku untuk melepaskan baju keangkuhanku, membuka topeng egoku, dan berikrar untuk menyetia-imu--tentu selama kau setia kepadaku. Embun mungkin masih bersetubuh dengan daun-daun dan rerumputan yang meranggas karena kemarau. Tapi mereka menyaksikan bahwa bintang temaram tetaplah kelap-kelip kebersamaan kita yang penuh warna. Sebentar lagi mungkin pagi akan pergi, tapi kita tetap satu untuk selamnya. (catatan untuk seseorang yang menemani pagiku di Ramadhan pertama untuk kebersamaan kami)

Friday, 22 August 2008

MEMAKNAI CEMBURU

Orang bilang cemburu tanda sayang. Terlalu pencemburu berarti kurang percaya sama pasangan. Benarkah?
Sebenarnya tak perlu dicari pembenaran terhadap dua opini di atas. Mungkin ada benarnya bahwa cemburu pertanda sayang dan terlalu pencemburu (cemburu buta) menandakan kurangnya rasa percaya kita terhadap pasangan kita. Yang jelas, cemburu adalah bumbu dalam sebuah ikatan dua mahkluk berjenis kelamin cowok dan cewek. Bumbu yang jika dimaknai dengan dalam akan melahirkan kesan. Kesan yang didapatpun tergantung pada siapa yang merasakan.
Tiap orang tentu punya pandangan berbeda melihat rasa cemburu. Cemburu bagi saya adalah hal lain tentang ketidakinginan saya melihat pasangan dikasih perhatian lain orang (orang lain maksudnya). Sebab perhatian terkadang tanpa disadari mencuri bilik paling dalam hati seseorang. Faktanya, orang yang berani berselingkuh terkadang dimulai dari hal-hal kecil, kemudian merembet pada yang lebih besar dan akhirnya terjadilah....
Cemburu.... [to be contin...]

Monday, 19 November 2007

NGIRENG PELATIHAN KOMPUTER DI SURABAYA

ikut pelatihan komputer di Surabaya atas prakarsa DEpkominfo, Prop. Jatim, Kanwil Depag. Berangkat dari Sumenep jam 03 dini hari nyampe di Surabaya jam 07.30. Enaknya nyampe di tempat acara langsung disuguhin komputer yang sudah terkoneksi dengan internet. Tidak enaknya apa ya???????

Tuesday, 17 July 2007

MULTIL***

Menemukan sodara, mungkin sebuah hal yang jarang ditemukan di masa sekarang. Apalagi sodara yang dimaksud adalah sodara yang benar-benar baru. hah, sungguh hal yang sangat luar biasa. Bertemu, kenalan lewat sms kemudian saling anggab sodara. Bisa jadi teman di kala resah, bisa jadi tempat curhat di kala gundah. Aku pikir ini hebat.

Sunday, 1 April 2007

bermain



bermain... ah indahnya. Masa kanak-kanak adalah masa asyik-asyinya bermain. Bercengrama dengan alam sembari menikmati hebatnya ciptaan Tuhan. Dengan bermain, waktu seakan berjalan dengan sangat cepat namun sangat indah. Asyik dan menarik. Bersama teman sebaya dengan alat permainan seadanya akan menjadi sesuatu yang sangat manis. Tanpa terasa waktu yang membosankan telah terbunuh menjelma keasyikan yang tak terbayangkan.............

Saturday, 31 March 2007

perkenalan

hidup memang datang dan pergi. seperti hari, ada siang ada malam. seperti warna ada gelap ada terang. mengenal kemudian lupa. lupa dan terkadang ingat lagi. atau mungkin lupa selamanya. mengenal, sebuah kata klise untuk menjabarkan sebuah input baru dalam otak kita. sebuah input yang seharusnya menjadi kenangan agar jangan dilupa. sebab jika sudah kenal terkadang sulit untuk lupa.

dedicated 4 batul

Wednesday, 14 February 2007

puisiKU

Serpihan cintamu

Hanya cintamu yang beku di sini
Membayangkan setumpuk impian luka
Ah
Luka
Aku rindu kata itu

Monday, 12 February 2007

Sebuah catatan awal

Pantai yang berpasir. Ombak rutin melempar buihnya menyusuri sisi bibir pantai yang berpasir. Angin berhembus kencang, buih kembali menabur putihnya ke tepian. Entah sampai kapan?
Mengapa buih menjadi simbol kerapuhan, seberapa banyak dan seberapa besarpun. Mungkinkah karena sebatas kapuk air gelombang yang terhempas seperti dimainkan. Padahal buih adalah sebuah keindahan. Menyiratkan kegigihan yang tak lekang oleh hempasan waktu. Buih terus membuih, membawa pasir bersama ombak ke bibir pantai kemudian pasir menumpuk membentuk sebuah gundukan.
Buih adalah hasil dari hempasan gelombang dengan kekuatan. Ia adalah bagian dari gelombang itu. Bagian dari kekuatan itu. Dan tak ada yang dapat menghentikannya. Ia adalah kekuatan yang maha.