Friday, 6 February 2009

Tradisi Nyontek

Pada sebuah kesempatan di kelas perkuliahan, ada seorang dosen yang bercerita, lebih tepatnya bentuk keprihatinan tentang kondisi mahasiswa sekarang, bercerita tentang banyak mahasiswa yang menafikan proses perkuliahan untuk tujuan to find knowledge dan lebih mengutamakan tujuan prakmatisnya—medapat ijazah lalu bisa ikut tes cpns, ikut sertifikasi atau minimal dapat senjata untuk pengajuan tunjangan fungsional di madrasah tempatnya mengajar, bagi yang mengajar.

Pada sebuah kesempatan di kelas perkuliahan, ada seorang dosen yang bercerita, lebih tepatnya bentuk keprihatinan tentang kondisi mahasiswa sekarang, bercerita tentang banyak mahasiswa yang menafikan proses perkuliahan untuk tujuan to find knowledge dan lebih mengutamakan tujuan prakmatisnya—medapat ijazah lalu bisa ikut tes cpns, ikut sertifikasi atau minimal dapat senjata untuk pengajuan tunjangan fungsional di madrasah tempatnya mengajar, bagi yang mengajar.
Lebih jelasnya, banyak mahasiswa yang hanya datang ke kampus hanya sekedar mengisi absen agar nanti bisa ikut UAS, tentunya kalau sudah ikut UAS dapat nilai, dan nilai itu yang nantinya disematkan bersama ijazah yang didapat. Ketika ada tugas penulisan makalah atau paper, si mahasiswa meng-order-kan pembuatan makalahnya kepada temanya. Temannya bisa saja mengorderkan lagi sama temannya yang lain, adik kelasnya, atau orang lain yang mau. Di dalam kelas, tidak ada greget diskusi layaknya forum keilmuan. Disana hanya ada seorang dosen yang ngomong, dan selebihnya hanyalah "patung" mahasiswa yang duduk manis, tapi terkadang duduk manisnya diselingi dengan obrolan layaknya di sebuah pasar, jadinya tidak manis lagi.
Dua hari, sekarang dan kemarin (5-6/02), saya ikut UAS di kampus untuk semester VII. Sebenarnya tidak ada yang istemewa di ujian kali ini. Pelaksanaannya sama seperti tahun-tahun kemarin. Sama-sama bisa nyontek dengan leluasa. Nyontek berjemaah. Satu kelas penuh. Semuanya nyontek. Pengawas sepertinya tidak begitu eddap dengan ulah mahasiswa yang ribut dengan bunyi buku dibuka catatan/foto kopi diktat, dan diskusi bersama membahas jawaban soal-soal antara yang satu dengan yang lain, lebih tepatnya bukan membahas tapi barter-barteran jawaban.
Samber gledek, saya tidak perlu belajar untuk UAS beberapa tahun belakangan ini. Seingat saya, hanya di semester awal saja saya belajar, maklum waktu itu saya masih kebawa kebiasaan ketika MA, dimana sebelum ujian mesti belajar dengan tekun dan semangat. Eh ternyata, di bangku kuliah dengan label status baru: maha-siswa ujiannya jauh lebih enteng daripada SD sekalipun. Maklum nyontek!
Apa memang tidak punya idealisme untuk tidak mencontek? "Jangan bicara idealisme disini bung!", begitu kata seorang teman. "Kalau kamu tidak mau ikut arus ini, kamu harus siap tidak lulus, mengulang lagi, nilai rendah dan sejenisnya". Lho kok? Entahlah saya juga bingung dengan kondisi ini seperti itu. Saya kemudian jadi serba tidak nyaman. Nyontek, pada awalnya hati tidak begitu rela, tidak nyontek ancaman tidak lulus atau minimal nilai jelek menghantui saya. Jadinya saya kemudian terbiasa nyontek. Dan sekarang kalau tidak nyontek malah tidak nyaman. Dan UAS dua hari inipun saya benar jadi seorang penyontek. Ya walaupun ada beberapa dosen yang memang memperbolehkan menyontek, atau bahasa kerennya open book!
Sebenarnya, kalau ditanya hati yang paling dalam, sayapun tidak mau menyontek. Saya malu kepada anak SD yang kalau ketahuan menyontek langsung ditegur oleh gurunya, atau bahkan tidak diperbolehkan lagi melanjutkan menjawab soal-soal ujiannya. Tapi mau bagaimana lagi, saya dipaksa kondisi untuk melakukan hal itu.
Sebenarnya buukan contek-menyontek saja fenomena bobroknya wajah pendidikan kita. Coba tanya kepada anak-anak SLTA atau SLTP ketika mereka mengerjakan UAN, pasti, kalau dijawab jujur, mereka mengatakan bahwa mereka menjawab soal-soalnya dengan dibantu seorang (atau beberapa) guru secara "profesional". Itu di SLTP dan SLTA. Kembali lagi ke kampus, coba tanya kepada beberapa mahasiswa tingkat akhir, beberapa orang diantara mereka yang menyusun skripsinya dengan cara mengkopi paste milik orang lain, membeli, mengorderkan, bahkan ada gosip ada seorang dosen yang dagangan skripsi baik partai ataupun eceran. Naif! Bahkan yang lebih anu lagi, ada kampus yang menjual ijazah!

Thursday, 5 February 2009

SANTRI DAN BUDAYA BEBEK VALENTINE'S DAY

14 Februari, biasanya, merupakan hari yang dinanti-nantikan kaum remaja. Katanya, hari itu adalah "hari raya kasih sayang" atau yang lebih populer disebut Valentine's Day. Hiruk pikuk Valentine's Day semakin semarak ketika mal-mal dan pusat perbelanjaan (kalau di kampung mungkin kios atau toko di pinggiran jalan) menjual bunga, kartu Valentine dengan gambar cupid, coklat berbentuk hati, dan pernak-pernik Valentine's Day lainnya. Demikian juga dengan media—koran, majalah, tabloid, televisi, dan internet tidak menyia-nyiakan momen hari raya kaum muda ini lewat begitu saja, sebab momen-momen seperti ini pasti mendongkrak rating dan oplah bisnis mereka.
Sejarah Valentine's Day merujuk pada seorang Pendeta Kristen St. Valentine. Menurut Ensiklopedi Katolik, ada tiga versi sejarah tentang hari itu. Pertama, pada abad ke 3 M, Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menyebarkan ajaran Kristiani.
Kedua, Claudius II berpendapat bahwa pemuda yang terus melajang akan lebih bersemangat dalam peperangan dibandingkan dengan yang menikah, namun St. Valentine menentang perintah Claudius ini dan secara diam-diam menikahkan pemuda-pemudi di Gereja hingga kemudian Claudius II mengetahui dan St. Valentine dijatuhi hukuman mati. Sebelum eksekusi, St. Velentine dijebloskan ke dalam penjara, di penjara inilah dia berkenalan dengan gadis, anak seorang sipir tempat dia dipernjara yang sedang menderita sakit. Dia diminta untuk mengobatinya dan berhasil, si gadis sembuh. Ternyata, diam-diam , St. Velentine jatuh cinta kepada gadis itu, begitupun si gadis jatuh hati kepadanya. Maka jadilah keudanya sepasang kekasih di bilik penjara. Sebelum menghembuskan nafas di tangan algojo Claudius II, St. Valentine mengirimkan sebuah kartu kepada kekasihnya bertuliskan "dari yang tulus cintanya, Valentine.
Ketiga, dulu di sebuah desa, di Eropa, ada sebuah tradisi unik, dimana para pemuda menuliskan namanya pada secarik kertas dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah. Kemudian para gadis berkumpul dan masing-masing mengambil satu kertas tadi, nama pemuda yang muncul di kertas yang diambil oleh si gadis akan menjadi pacarnya. Setelah itu, mereka saling berkirim kartu ucapan dengan tulisan "atas nama Tuhan Ibu". Hal ini kemudian menggelitik para pendeta untuk mengganti tulisannya menjadi "atas nama Pendeta Valentine" dan hal itu tak lain adalah upaya kristenisasi yang dilakukan oleh pendeta Kristen. Yang perlu menjadi catatan, tradisi itu berlangsung di pertengahan bulan Februari. Bagaimana dengan pesantren?
Diakui atau tidak, semarak Valentine's Day ternyata juga bergaung di tengah-tengah komunitas pesantren, tentu saja gaungnya tak sehingar dan tak sebingar di luar. Warga pesantren, meski tidak semuanya, dan terutama santriwati, secara sembunyi-sembunyi turut serta dalam menyemarakkan hari raya, yang katanya di barat sana merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal.
Santri yang rata-rata masih di usia sweetseventeen memang rawan dan gampang sekali menjadi bebek (baca:pengekor), termasuk dalam moment Valentine's Day ini. Agresifitas media dalam menyajikan Valentine's Day secara tidak langsung membuat mainset mereka tersesaki indah dan serunya bervalentine-ria. Kronologisnya, mula-mula santri cewek (mungkin) tergoda untuk mengirimkan kartu ucapan "Happy Valentine" kepada orang yang disayanginya. Gayungpun bersambut dari si (santri) cowok, mereka menyiapkan coklat vs bunga mawar (bunganya bisa saja bunga plastik murahan), dan tulisan "Be My Valentine" diselipkan pada sebuah kartu yang kemudian dibungkus dengan kertas motif bunga. Atau urutannya bisa berbalik, santri cowok yang memulai lebih dulu baru kemudian disusul santri cewek. Atau bisa juga kedua-duanya serampangan saling berkirim ucapan Happy Valentine atau Be My Valentine. Ini hanya sebatas gambaran kecil bagaimana santri merayakan Valentine's Day.
Jika menafikan pandangan agama, Valentine's Day mungkin sah-sah saja dirayakan. Tapi yang pasti, Islam sungguh tegas mengharamkan kaum muslimin merayakannya. Apalagi jika dilihat dari sejarahnya, Valentine's Day bermula dari kaum di luar Islam yang dimaksudkan untuk mengenang dan menghormati St. Valentine. Disamping itu, kegiatan Valentine's Day sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama dan adat ketimuran. Menurut poling majalah CosmoGirl, 95% gadis yang merayakan Valentine's Day rela melepaskan kegadisannya di perayaan 14 Februari tersebut kepada teman cowoknya.
Rasulullah bersabda, " Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ." (HR. At-Tirmidzi). Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauzi berpendapat, merayakan Valentine's Day sama dengan bid'ah dengan perbandingan hukum keharaman melebihi khamr dan judi—kalaupun tidak sama dengan kafir. Al-Qur'an juga dengan tegas mengatakan, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabannya” (QS. Al Isra’ : 36)
Dengan demikian, pantaskah santri ikut-ikutan merayakan, yang kata meraka, hari kasih sayang ini? Padahal Islam tidak pernah menetapkan hari tertentu untuk menebar kasih sayang, sebab pada prinsipnya cinta dan kasih sayang itu mesti diimplemetasikan tiap hari, tidak hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada lingkungan juga dan tidak pada tanggal 14 Februari saja. Wallahu a'lam!
dimuat di Radar Madura pada 05 Februari 2009

Tuesday, 3 February 2009

MEMANFAATKAN BLOG SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DAN EDUKASI DI PESANTREN

Pada tahun 1998, Jorn Barger memperkenalkan istilah weblog, istilah yang merujuk pada website pribadi yang diupdate secara kontinyu dan berisi jejaring (link) dengan website atau weblog lainnya. Weblog atau yang lebih populer disebut blog, seiring perkembangan internet sendiri terus mengalami perkembangan, termasuk peminatnya semakin hari semakin membludak. Mulai dari artis, politisi, tokoh, seniman, mahasiswa, hingga pelajar sekolah dasar.
Membuat sebuah blog tidak telalu sulit, tentunya pertama-tama kita harus punya akses internet terlebih dulu. Akses internet sendiri, saat ini tidaklah terlalu sulit, banyak pilihan koneksi yang bisa kita gunakan, mulai dari line telepon rumah (dial-up connections), Broadband, celuler dengan GPRS, atau pilihan koneksi lainnya dengan variasi harga dan kecepatan akses. Ada banyak tempat gratis (free hosting) yang bisa kita manfaatkan untuk menitipkan blog yang kita buat, misalnya di www.blogger.com atau www.wordpres.com. Membuat sekali lagi gampang, yang sulit adalah merawat dan mengisi (baca: memposting) secara kontinyu dan up to date sehingga orang akan tertarik dengan blog (pesantren) kita.
Sebagai sebuah layanan yang bisa diakses oleh semua orang di seluruh dunia (maya), blog bisa menjadi media yang efektif untuk mempromosikan dan memperkenalkan pesantren kepada masyarakat dunia (baca: pengguna internet). Apalagi, jika pesantren dimaksud adalah pesantren yang berada di daerah pedalaman terpencil dan jauh dari ruang publikasi, maka kehadiran blog akan menjembatani agar banyak orang lebih mengenal pesantren dengan segala keunikan dan kekayaan yang dimilikinya.
Tidak hanya itu, blog dapat pula menjadi media pembelajaran yang efektif bagi komunitas pesantren. Para kiai atau ustadz bisa memanfaatkan blog menjadii jembatan komunikasi yang lebih interaktif tanpa terbatas raung dan waktu. Blog bisa dibuat berdasarkan tema-tema tertentu sesuai dengan karakteristik dan kompetensi yang dimilikinya. Misalnya, kiai atau ustadz yang mengampu bimbingan kitab kuning dapat secara berkala memberikan materi pembelajarannya melalui blog (memposting). Hal ini akan membuka sebuah metode pembelajarn baru yang revolusioner dan semakin membuka gerbang wawasan para santri.
Dengan sendirinya pembelajaran dengan media blog akan melahirkan wawasan-wawasan baru, khususnya bagi para santri sendiri, mereka akan mencari perbandingan-perbandingan materi pelajaran dengan browsing di situs atau blog lainya. Dengan seperti ini, pembelajaran akan semakin menarik dan membuka tantangan baru bagi kiai atau ustadz untuk semakin meningkatkan kemampuannya ke level yang lebih tinggi, secara simultan.
Lebih jauh lagi, blog bisa menjadi media silaturrahim antara pesantren dengan alumni yang telah terpisah jarak dari komunitas pesantren. Mereka bisa terus mengikuti perkembangan pondok pesantrennya melalu dunia maya ini secara up to date. Para alumni juga bisa menyambung silaturrahim dengan alumni lainnya, melalui sebuah gatget forum yang bisa ditambahkan di blog dimaksud, misalnya.
Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep (www.annuqayah.blogspot.com), beberapa bulan terakhir memanfaatkan blog untuk menyajikan berita harian seputar kegiatan kepesantrenan, kejadian-kejadian penting dan unik. Sejauh ini, tanggapan dari berbagai pihak, santri, kiai, lebih-lebih alumni, sangat apresiatif. Bahkan banyak para santri yang terlibat dalam konten blog ini secara sukarela. Respon apresiatif dari para alumni dan berbagai pihak kemudian menjadi cambuk untuk terus mengembangkan blog ini.
Karena bisa diakses oleh semua orang, pengunjung blog inipun tidak hanya dari kalangan alumni atau komponen pesantren saja, melainkan banyak orang non pesantren yang tertarik dan berpartisipasi memberikan komentar apresiatif. Tentu hal ini merupakan kelebihan dan manfaat lain seperti yang telah penulis paparkan di atas. Walhasil kegiatan ngeblog akan memberikan warna tersendiri bagi pondok pesantren di tengah revolusi informasi saat ini

Monday, 12 January 2009

REFLEKSI: MENGUKUR KEDALAMAN EGO

BIRULANGIT-Aku pikir, setiap orang punya sisi kejelekan, tak terkecuali aku. Meminimalisir kejelekan itu adalah tugas diriku sendiri. Kalau aku tidak mampu, atau kalau aku tidak sadar, atau kalau aku menyadari tapi tidak mau sadar, maka tugas itu beralih kepada keluargaku, guru-guruku, teman-temanku, dan orang-orang yang melihat aku sedang dalam kesesatan. Karena bisa saja, aku tak pernah tahu, apakah aku sedang tersesat. Sebab bagaimana mungkin aku bisa melihat ada seekor gajah yang berkubang di pelupuk mata, karena lebih mudah bagiku untuk melihat seekor semut di seberang lautan. Itu kata pepatah!

Tapi kalau aku sadar, maka aku akan bermuhasabah. Melihat kembali dengan jeli, apa yang telah aku lakukan, mengaca diri, jangan-jangan benar di pelupuk mataku ada seekor gajah yang sedang berkubang ditemani seekor anjing.

Aku tidak ingin melihat kesesatanku itu secara parsial. Karena bisa saja aku tidak tersesat sendirian, jangan-jangan ada temanku yang menjerumuskan aku, walau kemudian aku tahu bahwa temanku itu adalah seekor setan atau sebangsa manusia yang punya hubungan dekat dengan bangsa setan. Kalaupun seperti itu, aku tidak mungkin mengakui bahwa sebenarnya aku tidak tersesat karena yang menyesatkan aku adalah setan. Aku secara gentle akan bilang bahwa aku memang tersesat dan aku tidak akan menyalahkan setan sebagai anjing hitam, eh kambing hitam (kasian kambing, sudah sering dikorbankan untuk dibuat sate masih juga dibawa-bawa untuk menjelekkan orang lain).

Seandainya kemudian aku tahu, bahwa sebenarnya tidak ada setan atau sebangsa setan yang turut serta dalam kesesatan yang aku maksud tadi, maka nyatalah bahwa aku tersesat dengan diriku sendiri, dengan kata lain bahwa setan itu adalah diriku sendiri, atau manusia yang punya hubungan dengan bangsa setan itu ternyata diriku sendiri. Sebab terkadang, egoisme seringkali memenuhi rongga dadaku. Seperti seekor gajah yang berkubang untuk membuat dirinya senang. Begitulah egoku, berbuat seenaknya dan tak mau berfikir tentang apa akibatnya, bagi diriku lebih-lebih terhadap orang lain. Ah ego!

* aku yang dimaksud disini bisa saja yang membaca tulisan ini :D